Ahad, 29 November 2015

Wali yang benar semesta bertasbih

        Manusia Mudah Dikuasai iblis Jika Berada dalam 3 Kondisi Ini



Nabi Musa ‘alaihis salam pernah bertemu dengan iblis yang mirip manusia. Atas ijin serta karunia dari Allah, Nabi Musa berhasil mengorek keterangan dari iblis perihal siapa manusia yang paling mudah dikuasai olehnya.

Iblis pada akhirnya memberitahukan rahasia itu. “Tiga keadaan yang membuat manusia bakal mudah kami kuasai, ” kata Iblis, “Jika manusia kagum dengan dirinya, terasa banyak amalnya serta melupakan dosa-dosanya. ”

Saudaraku, dari cerita yang dituturkan Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam buku Talbis Iblis ini kita dapat mengambil banyak pelajaran.

Kekaguman pada diri sendiri (‘ujub) adalah cikal akan kesombongan. Terasa diri terbaik, paling suci, terhebat. Sikap inilah yang dahulu dipunyai iblis hingga ia diusir dari surga. Rupanya, dengan sikap ini juga manusia bakal mudah dikuasai oleh iblis.

Saat seorang takjub(taksub) pada dianya, ia condong bakal buta dari kekurangan serta kekeliruan dirinya. Ketika yang sama, ia juga tidak dapat melihat kebaikan orang lain serta belajar dari mereka. Yang terjadi, waktu ada orang lain berbuat baik, ia menganggapnya kecil ketimbang dengan kebaikannya. Waktu sadari ada orang lain berprestasi, ia menganggap tak ada apa-apanya dibanding dengan dirinya.

Jikalau amal serta prestasi orang lain itu tidak dapat disamainya, ia bakal mencari kekurangan atau kekeliruan orang itu untuk dibanding dengan dianya sampai hingga pada kesimpulan bahwa dianya terus lebih unggul serta lebih baik dari orang lain.

Terasa banyak amal adalah keadaan ke-2 yang membuat manusia mudah dikuasai iblis. Lantaran terasa banyak amal, ia jadi menyepelekan dosa. Terlebih bila menurut dia itu yaitu dosa kecil yang tidak sepadan dengan akumulasi amal sebaiknya. Pada akhirnya ia jadi berani durhaka pada Allah, tanpa ada sadar menumpuk-numpuk dosa. Ia beranggapan kumpulan dosanya hanya setumpuk kerikil, walau sebenarnya dosanya sudah menggunung. Ia berasumsi amalnya seluas samudera, walau sebenarnya tak bernilai dihadapan Allah laksana tetes-tetes air yang menguap terserang cahaya matahari.

Beberapa ulama serta wali Allah, mereka tak berasumsi kecil satu dosa lantaran tiap-tiap dosa sejatinya yaitu kedurhakaan pada Allah yang Maha Besar. Ke-Maha Besar-an Allah membuat mereka sadar bahwa sekecil apa pun maksiat mesti selekasnya disesali serta ditaubati. Maksiat mereka kuatirkan tetapi pada siapa mereka bermaksiat itu yang lebih merisaukan.

Sesaat beberapa orang yang dengan mudahnya melupakan dosa-dosanya, terasa bahwa seluruhnya tidak jadi masalah, mereka mudah dikuasai iblis. Dosa untuk dosa tak membuat bertaubat namun malah dilupakan serta tak dikira. Sampai tertumpuklah dosa-dosa itu serta mendadak ia terperanjat waktu lihat begitu menjulangnya tumpukan dosa pada yaumul hisab. Wallahu a’lam bish shawab. (kisahikmah)

Tiada ulasan:

Catat Ulasan